Arsip

KAPOLRI

Kapolri Keduapuluh  [ 22 Oktober 2010 -sekarang ]

Profil Timur Pradopo, Isu pergantian kapolri akhirnya terjawab sudah, siapa yang di pilih oleh presiden sby sebagai pengganti dari Kapolri BHD, dimana sebelumnya santer terdengar bahwa ada beberapa nama yang akan di ajukan presiden ke DPR menyangkut calon kapolri, akhirnya SBY menentukan calon tunggal yakni Timur Pradopo, sipakah timur pradopo dan jabatan apa saja yang pernah ia sandang berikut ini ada profil dari Komjen pol Timur Pradopo

Komjen Polisi Timur Pradopo adalah lulusan Akademi Kepolisian 1978. Mengawali karir sebagai Perwira Samapta Poltabes Semarang. Tahun 1997-1999, Timur menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat, Kapolres Metro Jakarta Pusat (2000), dan Kapolwiltabes Bandung (2001). Berikut ini profil singkat Komjen Polisi Timur Pradopo hasil penelusuran

Nama: Drs Timur Pradopo

Pangkat/NRP : Inspektur Jenderal/56010380

Jabatan terakhir: Kapolda Jawa Barat

Tempat Lahir : Jombang, 10 Januari 1956

Suku Bangsa : Jawa

Agama: Islam

Riwayat Pendidikan

1. AKABRI (AKPOL) 1978

2. PTIK 1989

3. SESPIM POLRI 1996

4. SESPATI POLRI 2001

Riwayat Jabatan

1. Perwira Samapta Poltabes Semarang

2. Kasi Operasi Poltabes Semarang

3. Kapolsekta Semarang Timur

4. Kabag Lantas Polwil Kedu

5. Kabag Ops Dit Lantas Polda Metro Jaya

6. Kasat Lantas Wil Jakarta Pusat

7. Kapolsek Metro Sawah Besar

8. Wakapolres Tangerang

9. Kabag Jianmas Lantas Polda Metro Jaya

10. Kapolres Metro Jakarta Barat

11. Kapolres Metro Jakarta Pusat

12. Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat

13. Kapolwiltabes Bandung Polda Jawa Barat

14. Kakortarsis Dediklat Akpol

15. Irwasda Polda Bali

16. Kapolda Banten

17. Kaselapa Lemdiklat Polri

18. Staf Ahli Bid Sospol Kapolri

19. Kapolda Jawa Barat

20. Kapolda Metro Jaya

Semoga sedikit informasi mengenai Timur pradopo ini bisa bermanfaat bagi anda sekalian, dan mengenal lebih dekat profil Komjen pol Timur Pradopo, yang diajukan oleh sby sebagai calon tunggal kapolri. ( sumber, http://www.sugeng.web.id/1019/profil-komjen-pol-timur-pradopo.html )

Kapolri Kesembilanbelas  [ 1 Oktober 2008 -22 Oktober 2010 ]

Jenderal Polisi Drs. Bambang Hendarso Danuri, M.M. (lahir di Bogor, Jawa Barat, 10 Oktober 1952; umur 56 tahun) adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sejak 1 Oktober 2008. Beliau adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1974 dan meraih gelar sarjana dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta. Ia beristrikan Nanny Hartiningsih dan merupakan adik dari mantan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI (Purn.) Tritamtomo. Bambang mengawali karirnya di kepolisian ketika menjadi Wakasat Sabhara Polresta Bogor Polda Jawa Barat tahun 1975. Setelah itu karirnya terus melesat hingga antara lain pernah menjabat sebagai Kapolres Jayapura (1993), Wakapolwil Bogor Polda Jawa Barat (1994), Kadit Serse Polda Nusa Tengggara Barat (1997), Kadit Serse Polda Bali (1999, Kadit Serse Polda Jawa Timur (2000), Kadit Serse Polda Metro Jaya, Kapolda Sumatera Utara (2005-2006) dan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri (2006).

Penghargaan yang pernah diterima suami Nanny Hartiningsih ini antara lain Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun, Satya Lencana Karya Bhakti, dan Satya Lencana Ksatria Tamtama.( sumber, http://www.museum.polri.go.id/kapolri19-bambang-hendarso.html )

Kapolri Kedelapanbelas  [ 8 Juli 2005 - 30 September 2008 ]

Sutanto lahir di Comal, di Desa Gedeg pada tanggal 30 September 1950 dari pasangan Suryadi bin Rowowidjojo dan Suriah binti Warli. Ayah Sutanto merupakan seorang Polisi Negara yang merupakan keturunan asli Desa Gedeg. Menurut penuturan teman sepermainannya sewaktu kecil, Sutanto yang berpenampilan kalem itu ternyata pandai bermain klungsu (biji asem). Terbukti Sutanto kecil seringkali mengalahkan teman-teman sepermainan di lingkungan Desa Gedeg dalam hal dolanan klungsu. Masa kecil Sutanto antara tahun 1963 sampai 1966 banyak dihabiskan bersama budhe-nya, yaitu budhe Saryi yang tinggal di rumahnya di Desa Gedeg Rt. 07, Rw. 02, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Budhe Saryi (alm) sangat dekat

dengan Sutanto ditengah kesibukan ayahanda sebagai “bhayangkara Negara.” Menginjak usia 7 tahun, tepatnya pada tahun 1957, Sutanto tinggal bersama ayah dan ibu di lingkungan asrama Polisi Distrik (Sektor) Comal. Pendidikan menjadi sesuatu yang penting bagi keluarga Sutanto, oleh karena itu pada usianya genap untuk bersekola ia disekolahkan di TK Melati Comal. Pada tahun 1950-an jenjang pendidikan dasar di kecamatan Comal masil melalui Sekolah Rakyat (SR). Di desa Gedeg jenjang pendidikan hanya sampai kelas 1, 2, dan 3 SR. sedangkan kelas 4, 5, dan 6 harus ditempuh disekolah desa tetangga, yaitu Desa Gandu yang berjarak 2 kilometer. Masa sekolah dasar Sutanto diawali pada usia 7 tahun. Belum genap 6 tahun menuntut ilmu di Sekolah Rakyat (SR) Purwoharjo, Comal, pada tahun 1960 Sutanto harus pindah sekolah karena mengikuti kepindahan tugas ayahnya ke Kepolisian Distrik (sektor) Watukumpul sewaktu kelas Distrik (sektor) Belik. Kepindahan itu terjadi saat Sutanto naik ke kelas enam sekolah rakyat. Dan di Belik itulah Sutanto menamatkan sekolah rakyatnya. Sutanto kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMP Negeri 1 Comal. Sayangnya pendidikan SMP yang seharusnya ditempuh selama 3 tahun di SMP Comal akhirnya harus diperpanjang selama satu tahun gara-gara meletusnya peristiwa “Gerakan Tiga Puluh September.” Sutanto akhirnya lulus SMP di Randudongkal karena ayahnya pindah tugas lagi ke Kepolisian Distrik tersebut. Sutanto kemudian masuk menjadi siswa SMA Negeri Pemalang pada tahun 1967. SMA negeri Pemalang yang beralamat di Jl. Jenderal Gatot Subroto, Sirandu, Pemalang merupakan satu-satunya SMA Negeri di Kabupaten Pemalang ketika itu. Di sekolah itu ia merupakan siswa kelas ilmu pasti alam (PASPAL). Tahun 1969 Sutanto lulus SMA Negeri Pemalang dan melanjurkan studi di AKABRI Kepolisian (kemudian dikenal sebagai Akpol). Tahun demi tahun dilalui Sutanto dengan baik hingga akhirnya ia dinyatakan lulus dengan prestasi terbaik sebagai Taruna Akabri bagian Kepolisian pada tahun 1973. Ia juga menerima pedang Adhi Makayasa, symbol prestisius dalam sebuah prestasi pendidikan bagi seorang taruna Akpol. Setelah lulus jabatan kewilayahan pertamanya adalah Kapolsek Metro Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada tahun 1978. Kemudian bergeser menjadi Kapolsek Metro Kebayoran Baru. Saat menjabat di Polsek Kebayoran Baru, Sutanto dengan salah seorang rekannya berhasil menangkap pelaku penembakan anggota Brimob dan pembunuhan orang asing di suatu bar. Setelah dua kali menjadi Kapolsek, ia kemudian menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) angkatan ke-18. Tujuh tahun kemudian setelah lulus dari PTIK, Sutanto menamatkan pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri. Setelah tamat dari Sekolah Staf dan Pimpinan Polri, Sutanto ditugasi sebagai Detasemen Provos Polda Jawa Timur (1990), Kapolres Sumenep, Jawa Timur (1991), Kapolres Sidoarjo Jawa Timur (1992), dan Paban Asrena Polri (1994). Karier Sutanto terus melesat dan tanda-tanda ia akan menjadi pucuk pimpinan Polri mulai tampak jelas saat ia ditunjuk menjadi Ajudan Presiden Soeharto (1995). Sebuah jabatan yang dimasa lalu disebut-sebut prestisius itu diemban hingga jatuhnya Soeharto, Mei 1998. ( sumber, http://www.museum.polri.go.id/kapolri18-sutanto.html )

Kapolri Ketujuhbelas  [ 29 November 2001 - 7 Juli 2005 ]

Da’i Bachtiar lahir di Kabupaten Indramayu pada tanggal 25 Januari 1950. Kehidupan desa yang masih kental dengan sifat kekeluargaan dan gotong royong membentuk kepribadiannya. Keluarga Da’i Bachtiar termasuk disegani dan dihormati didaerahnya bukan karena mengandalkan pangkat yang tinggi serta kekayaan yang melimpah ruah, melainkan didikan budi pekerti luhur, sikap tolong menolong, rasa tanggung jawab, dan kepedulian social yang membuat orang tuanya mendapat penghormatan. Da’i Bachtiar bersekolah disekolah rakyat yang dulu setingkat dengan sekolah dasar masa sekarang dan berhasil lulus pada tahun 1962. Ia kemudian menamatkan pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) pada tahun 1965. Selanjutnya Da’i Bachtiar berhasil merampungkan pendidikan di SMA pada tahun 1968 dengan nilai yang sangat memuaskan. Ayah serta ibunya juga mendukung setiap hobi anaknya, salah satunya adalah hobi Da’i Bachtiar dalam berolahraga. Sehingga tidak mengejutkan jika ia memperoleh prestasi cemerlang dalam bidang olahraga. Kadang-kadang ia bersama teman-temannya turut dalam perkumpulan kesenian. Setelah tamat dari SLTA Da’i Bachtiar kemudian menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol). Ia lulus dari Akpol pada tahun 1972 dan kemudian bertugas di jajaran kepolisian sebagai pelaksana lapangan seperti kebanyakan polisi lainnya. Da’i Bachtiar memperoleh pangkat letnan dua pada tanggal 1 Desember 1972. Tugas pertamanya adalah sebagai inspektur Dinas Polres Grobogan Kodak IX Jawa Tengah pada tahun 1973. Setahun kemudian ia menjadi Kasi Sabhara/Lantas Polres Grobogan dan dalam tahun yang sama mendapat promosi sebagai Kabag Operasi Polres Grobogan sampai sekitar tahun 1983. Setelah itu ia dipromosikan menjadi Perwira Pengawas Departemen/Instruktur di Akademi Kepolisian. Tugas berikutnya ia ditunjuk sebagai Komandan Batalion Taruna Akademi Kepolisian sampai sekitar tahun 1987. Dalam tahun itu, Da’i Bachtiar mendapat promosi besar menjadi Kapolres Pati dengan pangkat Lentan Kolonel Polisi. Dua tahun bertugas di Blora, Da’i Bachtiar dimutasi sebagai Kapolres Boyolali, Polwil Surakarta, Polda Jateng dan berikutnya menjadi Kapolres Klaten sampai tahun 1992. Dari Kabupaten Klaten, Da’i Bachtiar dipromosikan sebagai Sesdit Serse Polda Jatim. Beberapa bulan kemudian, ia menjabat sebagi Kapoltabes Ujung Pandang, Polda Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra). Disinilah Da’i Bachtiar memperoleh pangkat Kolonel Polisi. Pada tahun 1994 dimutasi Kapolda Nusa Tenggara (Nusra) sebagai kepala Direktorat Reserse (Kadit Reserse) Polda Nusra. Tahun 1996, ia ditugaskan sebagi Wakapolda Sulawesi Tenggara lalu dipanggil ke Mabes Polri sebagai tenaga ahli Tingkat II Staf Ahli Kapolri bidang sosial politik. Karier Da’i Bachtiar menanjak terus sehingga memperoleh pangkat Brigadir Jenderal Polisi pada 1 Maret 1997 dan dipromosikan sebagai Kadispen Polri. Namun diposisi ini Da’i Bachtiar hanya beberapa bulan saja karena selanjutnya dipromosikan sebagai Komandan Korps Reserse Polri dan memperoleh kenaikan pangkat Mayor Jenderal Polisi berbintang dua, ia pun kemudian memperoleh posisi strategis sebagai Wakapolda Jawa Timur dan Gubernur Akademi Kepolisian. Tanggal 1 Agustus 2001 ia memperoleh pangkat Komisaris Jenderal Polisi sebagai Kalakhar BKNN.

Berkat ketekunan, kegigihan, dan keuletannya dalam menggapai cita-cita, Karier Da’i Bachtiar terus bersinar terang. Presiden Megawati Soekarno Putri kemudian mengajukan nama Komisaris Jenderal Polisi Drs. Da’i Bachtiar sebagai satu-satunya calon Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Drs. Suroyo Bimantoro yang akan segera pensiun. Kamis 22 November 2001 nama Komisaris Jenderal Polisi Da’i Bachtiar mulai dibahas di DPR dalam rapat Badan Musyawarah. Pada senin 26 November 2001 seluruh fraksi yang tergabung dalam Komisi I dan Komisi II DPR secara aklamasi menyetujui pencalonan Komisaris Jenderal Polisi Da’i Bachtiar sebagai Kapolri oleh Presiden. Namun persetujuan itu masih akan dilaporkan lagi kepada Badan Musyawarah (Bamus) DPR untung diagendakan dalam Sidang Paripurna DPR. Selanjutnya pada hari kamis 29 November 2001 dalam Sidang Paripurna DPR yang dihadiri 259 anggota, disahkanlah persetujuan pengangkatan Komisaris Jenderal Polisi Da’i Bachtiar sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Suroyo Bimantoro. Seusai Pelantikan DPR meminta Kapolri yang terpilih untuk memprioritaskan tugas-tugas pokoknya pada pemberantasan perjudian, menuntaskan kasus 27 Juli 1996 (kasus dimana sekelompok orang yang memakai atribut PDI menyerang kantor DPP PDI kubu Megawati) dan memberantas narkoba. ( sumber, http://www.museum.polri.go.id/kapolri17-dai-bachtiar.html )

Kapolri Keenambelas  [ 23 September 2000 - 28 November 2001 ]

Suroyo Bimantoro lahir di Gombong, Kebumen Jawa Tengah pada 3 November 1964 sebagai anak kedua dari Sembilan bersaudara. Bimantoro menempuh pendidikan dasar di Banjarnegara (Banyumas) dari tahun 1953-1959. Sejak kecil Bimantoro dikenal oleh kawan-kawannya sebagai teman yang gemar belajar, oleh karena itu pada saat ujian akhir sekolah dasar ia meraih rangking II dari sekolahnya. Setelah lulus sekolah dasar, Bimantoro melanjutkan ke SLTP pada tahun 1959-1962. Pada ujian akhir sewaktu SLTP Bimantoro berhasil meraih rangking pertama untuk seluruh SMP di Gombong. Selanjutnya ia meneruskan jenjang pendidikannya ketingkat SLTA (SMA VI) di Yogyakarta. Selepas SMA, ia mengikuti tes di Kedokteran UI dan Teknik Kimia UGM. Namun karena ayahnya meninggal pada 29 Agustus 1965 maka dengan terpaksa panggilan dari dua universitas tersebut ditolaknya. Hal ini terjadi karena ia sadar bahwa biaya kuliah dan kost tidak mungkin dipenuhinya. Setelah menganggur selama satu tahun ia kemudian mendaftar ke Akademi Kepolisian Semarang. Yang menjadi motivasinya mendaftara adalah sekolah itu tidak memungut biaya dan setelah lulus akan diangkat menjadi Inspektur Dua (Perwira). Ia lulus dari Akademi Kepolisian pada tahun 1970 pada peringkat ke-8 dan masuk kategori The Big Ten. Karena sejak awal Bimantoro menjalin hubungan yang luas dengan para mahasiswa dari akademi lain dalam sebuah wadah Akabri. Maka saat menjabat, ia menegaskan pentingnya untuk meningkatkan koordinasi dengan semua unsur TNI dalam upaya menghilangkan kecurigaan diantara para pasukan. Dengan kerjasama dan koordinasi yang erat antara Polri, TNI dan instansi sipil khususnya penegak hukum, ia ingin menembus sekat informasi yang selama ini sering menimbulkan kecurigaan. Bimantoro kemudian melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Ia lulus pada tahun 1977 dengan prestasi rangking 1. Dalam bidang kemahasiswaan Bimantoro menjabat Wakil Ketua Senat PTIK Angkatan XIII/WASPADA. Semasa menjadi siswa Sespimpol mendapatkan pendidikan manajerial tertinggi untuk matra kepolisian. Pada akhir pendidikan Bimantoro meraih peringkat pertama bidang intelektual. Semasa tugas di Sekolah Staf dan Komando ABRI Gabungan (Seskogab) tahun 1933, ia belajar dengan tekun sehingga mendaptkan peringkat 6 atau sepuluh besar. Sama seperti saat di Sespimpol, di Seskogab ia menjabat sebagai Wakil Ketua senat. Bimantoro juga mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus Internasional X Interpol di Taormina (Italia) pada tahun 1933. Jabatan-jabatan yang pernah diemban Bimantoro sebelum menjadi Kaporli diantaranya: Kapolres Jakarta Utara (1985), Kepala Polres Jakarta Barat (1986), Pasdep Fal Juang Sespim Polri (1987-1989), Gadik Utama di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) tahun 1990, Sekretaris Pribadi Kapolri (1991), Kapolwil Kota Besar Surabaya (1993), Wakil Kapolda Nusa Tenggara (1996), Kapolda Bali pada 15 Juli 1997. Pada 1 Mei 1998 diangkat sebagai asisten Operasi Kapolri sampai awal tahun 2000, tahun 2000 Bimantoro diangkat menjadi Waka Polri, dan kemudian diangkat sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Drs. KHP Rusdihardjo untuk menangkap pelaku pemboman BEJ dan kasus Atambua.

Jenderal Polisi Drs. R. Suroyo Bimantoro diangkat sebagai Kapolri pada tanggal 23 September 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Sesuai dengan kesepakatan Presiden dengan Ketua DPR (Akbar Tanjung), pengankatan Bimantoro menjadi Kapolri dilakukan setelah DPR mengadakan rapat pimpinan DPR tentang penggantian Kapolri. Beberapa waktu setelah diangkat Kapolri langsung mengumumkan polisi telah mengetahui detail kelompok yang selama ini melakukan terror bom. Namun Kapolri belum bersedia merinci kelompok mana yang melakukan terror tersebut demi suksesnya penyelidikan. Ia menambahkan pihaknya juga akan meningkatkan kerjasama dengan lembaga inteligen seperti BAKIN (Badan Koordinasi Inteligen) dan BIA (Badan Inteligen ABRI). Dengan koordinasi dan saling proaktif Bimantoro menegaskan akan segera mematahkan jalur distribusi bahan peledak, senjata api dan lain-lainnya. Ditambah dengan kerjasama Interpol dan FBI akhirnya Polri berhasil menangkap25 tersangka pengeboman, termasuk kasus bom di BEJ. (http://www.museum.polri.go.id/kapolri16-surojo-bimantoro.html  )

Kapolri Kelimabelas  [ 4 Januari 2000 - 22 September 2000 ]

Jenderal Polisi Drs. Rusdihardjo lahir pada tanggal 7 Juli 1945 di Dlem Tjokrokusuman. Lahir dari pasangan suami istri G.P.H. Notoprodjo dan R. Ayu Soenarni Wongsonegoro. Rusdihardjo mulai masuk sekolah di Sekolah Dasar Margorejo, Kecamatan Tayu, Pati. Di sekolah tersebut ia belajar dari kelas I hingga kelas IV, sedangkan kelas V hingga kelas VI diselaikan di Walikukun, Ngawi, Jawa Timur. Selesai menempuh pendidikan di sekolah Dasar kemudian Rusdihardjo melanjutkan sekolah di SMP Negeri I Tangerang pada tahun 1957. Tiga tahun kemudian, ia lulus dari SMP tersebut dan selanjutnya meneruskan pendidikan di SMA Regina Pacis, Bogor. Berpindah pindahnya tempat sekolah Rusdihardjo dikarenakan mengikuti pekerjaan ayahnya yang seringkali dipindahtugaskan, dari perkebunan satu ke perkebunan lainnya.

Setamat SMA, Rusdihardjo memutuskan untuk masuk Akademi Kepolisian. Rusdihardjo resmi diterima di Akademi Kepolisian di Sukabumi pada tahun 1964. Kemudian ia lulus Baccaloreat PTIK pada tahun 1967 dengan pangkat letnan dua. Rusdihardjo kemudian ditempatkan sebagai perwira samapta di Komwil 73 (sekarang disebut polres) Jakarta Barat. Inilah awal karier bagi Rusdihardjo di Kepolisian. Pada tahun 1971, Rusdihardjo melanjutkan pendidikan di PTIK tingkat (doktoral), yang diselesaikannya tahun 1974. Setelah menyelesaikan pendidikan di PTIK, selanjutnya Rusdihardjo mendapatkan tugas baru di Polda Kalimantan Barat dengan jabatan sebagai Kabag Reserse. Pada tahun 1979, Rusdihardjo berhasil lulus testing Sesko ABRI bagian Kepolisian, sejak saat itulah, ia menjadi mahasiswa di Seskopol dan menyelesaikan pada tahun 1980. Di tahun yang sama, Rusdihardjo mendapat Surat Keputusan (Skep) baru, yaitu pindah ke kesatuan utama reserse narkotika di Mabes Polri, Jakarta. Dua tahun kemudian, Rusdihardjo dinaikkan pangkatnya menjadi letnan kolonel (Letkol) polisi dan ditempatkan di Kanit II Sattama Serse Narkotik Mabes Polri. Berdasarkan pengalamannya di bidang narkotika, kemudian Letkol Polisi Rusdihardjo diangkat sebagai Kasubdit Reserse Narkotika di Mabes Polri.

Rusdihardjo memegang jabatan sebagai Kasubdit Resere Narkotika di Mabes Polri cukup lama, yakni hingga tahun 1989. Saat memangku jabatan tersebut, banyak hal yang telah dilakukan oleh Rusdihardjo, salah satunya adalah mengembangkan teknik dan taktik untuk menanggulangi masalah narkotika, teknik tersebut ditemukan oleh Rusdihardjo dan dinamakan Controlled Delivery. Teknik tersebut berhasil membongkar sindikat narkoba antarnegara, selanjutnya teknik ini kemudian digunakan dan di sahkan oleh semua anggota PBB pada bulan Februari 1988 melalui Sidang Umum Divisi Narkotika PBB di Wina. Setelah memangku jabatan sebagai Kasubdit Reserse di Mabes Polri, kemudian selama tiga tahun hingga tahun 1992, Rusdihardjo diangkat menjabat sebagai Kapolwil Daerah Istimewa Yogyakarta. Seiring dengan program Visit Indonesia Year 1990, selaku Kapolwil Yogyakarta, Rusdihardjo membentuk “turis polisi” yang modern dan ramah. Gagasan Rusdihardjo tentang tourist police tersebut mendapatkan dukungan yang kuat dari banyak kalangan. Dalam perkembangannya, gagasan ini kemudian diangkat menjadi program nasional oleh Mabes Polri.( sumber, http://www.museum.polri.go.id/kapolri15-roesdihardjo.html )

Kapolri Keempatbelas  [ 29 Juni 1998 - 3 Januari 2000 ]

Salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang pernah dimiliki adalah Drs. Roesmanhadi, S.H., M.M., M. Hum. Ia adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) ke-14, selama periode 3 Juli 1998 – 4 Januari 2000.

Sejumlah “pekerjaan rumah” yang berat telah menghadang Kapolri Letjen Polisi Drs. Roesmanhadi, S.H., M.M., M. Hum. Setelah menerima tongkat komando dari Drs. Dibyo Widodo, Roesmanhadi mencurahkan pikirannya untuk memperbaiki citra polisi. Ia pun juga harus mencari cara untuk menigkatkan kemampuan profesionalisme anggota Polri, khususnya sebagai penyidik dan mempercepat kerja sama dengan polisi luar negeri dan lembaga lain.

Korps pimpinan Roesmanhadi ini tengah menghadapi masyarakat yang kian gencar menuntut polisi agar dapat mengusut tuntas sejumlah kasus besar yang kontroversial, seperti pembunuhan wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafrudin, pembunuhan raja judai Nyo Beng Seng, dll. Selain itu, Polri juga harus menerima kenyataan bahwa personelnya sangat terbatas (184.283 personel) yang diharuskan mengahadapi gelombang reformasi yang diiringi aksi unjuk rasa, dengan populasi penduduk mencapai 200 juta jiwa.Di samping persoalan keterbatasan personel yang tidak sebanding dengan besarnya persoalan bangsa, Roesmanhadi juga menyadari bahwa selama ini citra polisi terbilang kurang bagus. Citra itu kian tercoreng dengan tuduhan bahwa polisilah pembunuh empat mahasiswa Trisakti, 12 Mei 1998. Bagi lelaki kelahiran Porong itu, citra Polri merupakan permasalahan nomow satu yang harus segera dibangun kembali. Polisi tidak akan ada artinya jika tidak mendapat tempat di hati masyarakat. “Pertama-tama kami ingin mengembalikan citra Polri, yakni Polri yang dicintai dan disegani masyarakat”, ujar pria alumnus PTIK 1974, Angkatan XI / Bhakti ini. Ia juga mengakui Polri sedang mengalami degradasi kepercayaan masayarakat. Hal ini terlihat dari sejumlah WNI keturunan Tionghoa yang mengalami ketragisan diperkosa dan dianiaya oleh massa perusuh (kasus kerusuhan 13-14 Mei 1998) ternyata lebih percaya dan mengadu kepada Komnas HAM, bukan kepada polisi.

Semasa Roesmanhadi memangku jabatan Kapolri, banyak desakan agar Polri memisahkan diri dari ABRI. Dan desakan itu pun terealisasikan, tepatnya Kamis 1 April 1999, Polri resmi memisahkan diri dari ABRI. Dengan lepasnya Polri dari ABRI, tantangan baru telah menghadang dan harus dihadapi. Untuk menghadapi tantangan baru, sebagai Kapolri di tengah reformasi, Roesmanhadi pun melakukan reformasi di tubuh Polri. Reformasi yang dimaksud adalah berkaitan dengan reformasi kemampuan, keterampilan, dan mentalitas anggota Polri. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dari segenap jajarannya. Fokus ke dalam tubuh Polri sendiri adalah pembenahan kepada anggota Polri melalui pendidikan, sedangkan fokus ke luar adalah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik lagi dalam rangka memulihkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat yang sebelumnya terdegradasi.

Lepas dari itu semua, Roesmanhadi merupakan pribadi yang taat kepada kedua orang tuanya. Kakek dan ayahnya adalah seorang polisi. Terlahir dari keluarga polisi, Roesmanhadi kecil yang lahir di Porong, Sidoarjo, 5 Maret 1946 ini wajar bercita-cita menjadi polisi. Keputusannya untuk melanjutkan tradisi keluarga merupakan pilihan tepat. Keputusan itu telah membawa Roesmanhadi menangkup jabatan tertinggi di Polri. ( sumber, http://www.museum.polri.go.id/kapolri14-roesmanhadi.html )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.